100 Purnama

Ketika kutatap mata itu, seratus purnama yang lalu

Kurasa naif…

Kurasa tulus…

Kurasakan denyar-denyar itu dari ubun-ubun

Merangsek ia hingga telapak kakiku

Saat kusentuh wajah itu, seratus purnama yang lalu

Kurasa senyumnya…

Kurasa air matanya…

Kurasakan segala riak di sana adalah pantulan rasaku

Menusuk-nusuk ia sampai ke otak kecilku

Duhai…

Andai bisa kuusir ia hingga ke siluetnya

Agar enyah ia hengkang dari kepala!

Agar tiada lagi matanya, wajahnya,

Yang berjingkat menyelinap, dan membuat lubang besar menganga di sana

Niscaya…

Aku tak kan terjaga pagi ini karenanya

Yang hanya membuat sengatan-sengatan menyakitkan

Di dahiku…

Di telingaku…

Hingga ke ulu hatiku… Membuatku muak!

Niscaya…

Kan kutemukan diriku terjaga pagi ini

Oleh desiran kipas, dengungan kulkas,

Diiringi ceracau sumbang burung gereja

Dan bau masam tanah basah di luar sana

Yang bangunkan aku dari mimpi, tentang seratus purnama yang lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s