Let’s Talk About Virginity

IMG_20180517_121059-01

Bila kita mendengar kata “keperawanan”. Apa yang terlintas pertama kali di benak kita saat mendengarnya? Kebanyakan orang akan berpikir tentang “selaput dara.” Ya, mayoritas kita menganggap keperawanan itu sama dengan selaput dara. Doktrin yang sudah dipercaya masyarakat kita sejak lama. Pertama, perawan itu sama dengan selaput dara. Kedua, bila selaput dara itu rusak, dengan sebab apapun (kecelakaan, olah raga, pemerkosaan, hubungan seks, atau sebab lainnya), maka artinya wanita tersebut sudah kehilangan keperawanannya. Ketiga, apapun aktifitas seksual yang dilakukan, selama tidak merusak selaput dara, berarti tidak akan merusak keperawanan. Benarkah demikian?

Sebenarnya, keperawanan atau virginitas itu tidak sama dengan selaput dara. Keperawanan relatif amat tinggi nilainya. Dia tidak bisa disamakan hanya dengan selaput tipis elastis yang berada tidak jauh dari liang vagina. Keperawanan bukan bersifat fisik semata, tapi juga berkaitan dengan kualitas seorang dalam menjaga kehormatannya. Dan selaput dara, hanyalah salah satu indikator pengukur keperawanan yang tidak selamanya mutlak.

Wanita yang kehilangan selaput daranya, tidak bisa serta merta dikategorikan sebagai wanita tidak perawan atau sudah tidak suci lagi. Kita harus melihat dulu apa penyebabnya. Bila kita menyaksikan berita kriminal di TV, akan banyak kita temukan berita pemerkosaan. Di mana korbannya tampak sangat terpukul, trauma, sekaligus malu dan merasa rendah diri. Korban itu merasa dia sudah tidak suci lagi, sudah tidak berharga sebagai wanita. Dia menjadi seperti itu, karena paham salah yang dianut masyarakat kita selama ini. Padahal sebetulnya tidak demikian. Ingat, dia diperkosa, Kehormatannya diinjak-injak, selaput daranya rusak karena paksa. Adilkah bila kita menyebutnya sudah tidak perawan lagi? Demikian pula bagi wanita-wanita yang selaput daranya rusak karena kecelakaan, misalnya karena terjatuh, atau bisa karena olah raga. Apa itu namanya dia sudah tidak perawan lagi? Faktanya, bahkan ada wanita yang lahir tanpa selaput dara sama sekali. Tentu saja lain masalahnya bila selaput dara itu rusak karena hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Sekarang jika kita melihat masalah ini dari sisi sebaliknya. Apakah benar, bahwa apapun aktifitas seksual yang dilakukan, selama tidak merusak selaput dara, berarti tidak akan menghilangkan keperawanan? Yang perlu kita ingat, aktifitas seksual itu tidak hanya penetrasi penis ke dalam vagina. Petting, anal seks, dan oral seks juga termasuk aktifitas seksual. Jadi bila seseorang pernah melakukan semua (atau salah satu) aktifitas seksual itu, walau tanpa penetrasi penis ke dalam vagina, apakah dia masih bisa disebut perawan, hanya karena selaput daranya masih utuh?

Well, aku rasa dengan begini kita bisa memiliki cara pandang yang lebih adil. Dan sebetulnya pandangan ini tidak hanya diterapkan kepada perempuan saja, tapi juga diterapkan untuk laki-laki, Terlebih lagi karena selama ini tidak ada indikator yang bisa digunakan sebagai tolak ukur keperjakaan, karena laki-laki tidak punya selaput dara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s