Mengatasi Jenuh Bekerja

IMG_20161109_114816

Pernah merasa jenuh pada pekerjaan yang dimiliki saat ini? Pernah berpikir bahwa pekerjaan saat ini belum sesuai dengan yang diharapkan? Walaupun kita merasa sangat bersyukur karena kita lebih beruntung dari sekian juta pengangguran di luar sana, tak bisa dipungkirin kadang rasa bosan itu datang juga menghinggapi pikiran kita.

Jenuh, adalah watak manusia yang sangat alami. Siapa saja pasti pernah merasa jenuh. Ya manusia cenderung bosan bila harus melakukan suatu kegiatan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Sekalipun kegiatan itu adalah hal yang kita sukai. Terlebih lagi jika ternyata kegiatan itu adalah pekerjaan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pertanyaannya sekarang, jenis pekerjaan apakah yang tidak membosankan? Sebagian dari kita berpendapat, bahwa pekerjaan yang memungkinkan kita untuk bertemu dengan banyak orang adalah jenis pekerjaan yang tidak membosankan. Misalnya Customer Service, Kasir, atau Pramuniaga. Sebagian lagi berpendapat bahwa banyak bekerja di luar ruangan akan jauh dari rasa bosan. Seperti Wartawan, Sales, atau Arkeolog. Dan sebagian lainnya berpikir, bahwa andai kita bisa bekerja sesuai dengan hobi kita, Penyanyi, Penari, atau Penulis misalnya, tentunya kita tidak akan pernah merasa bosan.

Lihatlah, alangkah variatifnya tolak ukur dari masing-masing kita dalam menentukan jenis pekerjaan apa yang tidak membosankan. Apakah pernah terpikir, bahwa ternyata semua pekerjaan itu sama saja? Coba diingat lagi, seberapa sering kita melihat artis yang tiba-tiba menghilang dari layar kaca, lalu tiba-tiba muncul lagi di infotaintment sambil berkata bahwa selama ini dia memilih vakum dari pekerjaannya untuk mengatasi kejenuhan. Sementara banyak remaja di luar sana yang bermimpi untuk bisa menjadi artis, karena silau dengan dunia gemerlapnya. Sementara kita lihat, sekarang banyak sekali ajang-ajang yang mencetak artis-artis instant, demi untuk memenuhi impian itu.

Oke tenang, kita tidak perlu panik karena mendapati kenyatan bahwa memang tidak ada pekerjaan yang tidak membosankan di planet ini. Setidaknya kita masih bisa berpikir, mencari cara untuk mengatasinya. Bagaimana caranya agar kita bisa mengatasi rasa jenuh pada pekerjaan tersebut?

  • Berpikirlah bahwa kita dibayar. Ya, tenaga kita tidak gratis bukan? Kita dan perusahaan berada dalam hubungan simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan. Jadi, kita boleh saja merasa bosan, dan itu manusiawi. Tapi bagaimana jika sebaliknya, perusahaan yang tiba-tiba jenuh memperkerjakan kita? Nah loh…

  • Berpikirlah bahwa ada jutaan pengangguran di luar sana. Orang-orang yang sebagian berpendidikan tinggi, yang bisa jadi lebih pandai dari kita, tapi tak seberuntung kita dalam memperolah kesempatan kerja. Tidak percaya? Datanglah ke pameran bursa kerja sekali-sekali. Dan rasakan betapa Tuhan sangat menyayangi kita.

  • Ikutilah kegiatan-kegiatan ekstra di kantor, atau di lingkunganmu. Beberapa perusahaan yang kita tahu telah menyediakan fasilitas kegiatan ekstra untuk karyawannya. Seperti kegiatan keagamaan, olah raga, dan sebagainya yang semuanya gratis. Jadi, manfaatkanlah fasilitas itu. Pilih yang sesuai dengan kegemaran kita. Atau bila di perusahaan kita tidak ada fasilitas seperti itu, ikutilah kegiatan ekstra di lingkungan kita. Apa saja, yang penting positif. Selain bisa menambah teman, kita bisa sejenak beralih suasana dari rutinitas kerja yang membosankan.

  • Rapikan mejamu! Taruh bunga cantik di atasnya. Letakkan foto orang-orang yang kita cintai. Bisa foto suami kita (atau calon) yang romantis itu, anak kita yang lucu, orang tua yang tinggal di luar kota, adik kecilmu yang nakal, bahkan foto kucingmu yang selalu membuat kesal karena kegemarannya menggaruk pintu. Letakkan juga pengharum yang baunya tidak terlalu tajam. Atau bisa juga aroma terapi. Apapun, yang bisa membuat kita jadi lebih betah di tempat kerja.

Jadi kesimpulannya, semua kembali pada diri kita masing-masing. Jenuh pada pekerjaan itu bukannya tidak bisa diatasi. Ini hanya soal bagaimana cara kita membentuk pemikiran yang positif, kemudian menstimulasikannya dalam otak kita hingga bisa menghasilkan output yang positif pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s