Surat Cinta Terakhir

IMG_20180714_115624Kepada yang terkasih,

Awalnya, aku meringkuk nyaman dalam kelopak kuncup teratai berbilang ganjil. Ingin gantikan fana dengan maya, karena auraku nan legam membias padanya. Hanya bermasyuk dalam dimensi ciptaanku bersama ruh kesembilan yang selalu melekat erat di kepalaku. Satu… Dua… Hingga entah berapa kali evolusi Bumi yang mencumbu Matahari. Aku tetap seperti itu, tak terusik waktu yang kian membawaku tumbuh remaja bagai kijang muda yang terpisah dari kelompoknya, melompat-lompat sendirian di tengah padang.

Kemudian kau datang dengan segenggam lempung di tangan. Mencipta berbagai wujud untuk diletakkan di tepi jendelaku. Kupu-kupu, matahari, hingga cawan madu. Kurasa pelangiku telah tiba. Kurasa telah saatnya aku keluar dari kelopak itu untuk berjumpa dengan embun, dengan kunang-kunang. Aku begitu mencinta. Tapi ruh kesembilan itu, berang ia memerah saga di hatinya, menggayuti kaki dan otakku. Kepergianku baginya, adalah sebuah pengkhianatan. Setelah selama ini hanya ia yang ada.

Semuanya tak semudah yang kita bayangkan. Lelah kupupuk asa agar tak musnah. Dan kau terus tegarkan, kau terus kuatkan, hingga akhirnya kita benar-benar bisa melampauinya.

Pelangi itu begitu berwarna, begitu indah hingga salur-salurnya melenggok indah di mega kalbuku. Tiap hari kita ukir merah jingganya, kita nikmati birunya, reguk kelabunya. Hingga kadang tak bisa kita bedakan hitam dan putihnya. Namun aku tak pernah peduli. Kau adalah inspirasi dari tiap ciptaanku. Kau adalah nyawa dari sejuta syairku.

Lihatlah rembulan di atas sana kian tua. Entah sudah berapa panjang masa ia habiskan untuk dampingi matahari. Sesungguhnya, alangkah malang ia. Tuhan menciptakannya berpasangan dengan sang raja siang, agar biaskan sinarnya hingga teranglah malam. Namun selama itu pula, tak pernah satu kali pun langit menyandingkan mereka. Sadarkah kau? Betapa beruntungnya kita.

Dan ingatkah kau pada malam-malam di mana kita menari, ditemani temaram cahaya bintang? Ya, kita menari dalam keheningan. Hanya nafas dan detak jantung kita yang menjelma menjadi melody indah. Membentuk symphony mengalun dayu selaksana puspa ratna. Ingatkah kau bahwa tak seharipun kau lalui tanpa menasbihkan keberadaanmu? Aku merasa dalam tubuhku ada dua ruh. Ketika satu ruh mati, yang lain akan menghidupi. Dan kita terus menari…

Kemudian dia datang. Seperti hantu, ia menikam titik terlemahku dengan keakuratan yang mencengangkan. Semua itu mengoyahkan kita. Pada akhirnya, yang membuat luka itu kian berkarat di jiwa adalah rentang jarak di antara kita. Semestinya kau tahu, kekuatanku adalah berada dekat denganmu. Jauh darimu membuatku lemah. Dan dalam lemahku ia makin leluasa menyusupi tiap sela poriku, tiap serambi jantungku, tiap sekat pembuluhku. Dan ini terjadi dalam selang waktu yang cukup untuk membuat kita hancur.

Dan kutukan itu akhirnya turun jua, tarian kita tak seindah dulu lagi. Biar purnama, biar gerhana, apalah artinya kini? Aku yang selama ini bertahan mengumpulkan serakan puing asa dan serpihan cita, yang kupikir masih layak untuk kita miliki. Kini aku seperti kupu-kupu yang asing pada kepompongnya sendiri. Aku tak mengenalmu lagi.

Duhai, andai ini adalah akhir. Masih adakah tersisa sedikit jeda bagiku? Sekedar untuk memperlambat semua ini… Andai bisa kuputar jarum jam itu ke arah kiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s