Dear Devil

Screenshot_2018-07-17-21-39-45-801_com.instagram.androidAku menjelajahi alam maya itu, menyesapi setiap kesemuannya. Sepuluh jemari menari di atas keyboard laptop, hingga akhirnya menemukan seseorang di sana. Percakapan kami mengalir di chat room.

Hi Dear.” Sapanya. Hmmm… panggilan itu sudah lama tak kudengar.

Masih di kantor mas? Banyak kerjaan ya?”

Iya, begitulah. Kamu lagi ngapain Dear?”

Lagi browsing-browsing aja.”

Diam beberapa saat. Aku tidak mau terlalu mengganggu kerjanya.

Hang out yuk Dear.” Katanya tiba-tiba.

Kapan mas?”

Malam ini.”

Mataku reflek melihat ke pojok kanan bawah monitor, 09:02 pm. Bagi sebagian orang, mungkin waktu ini adalah awal kehidupan malam ibu kota. Tapi bagiku saat itu adalah menjelang waktu tidurku. Terlebih di hari Senin, masih ada empat hari kerja lagi sebelum weekend. Berat rasanya untuk mengiyakan ajakannya.

Ayolah Dear, kapan lagi aku bisa jalan sama kamu. Kamu pilih saja tempatnya.” Dia seperti bisa membaca keraguanku.

Cukup lama aku berfikir. Mencari-cari alasan masuk akal yang bisa mendukungku untuk mengiyakan ajakannya, atau alasan untuk tetap tinggal di kamar dan tidur tepat waktu.

Ok, ya. Aku keluar kantor jam 10, Dear. I’ll call you.” Lanjutnya sepihak.

Tapi aku gak mau pulang terlalu malam, besok aku harus kerja mas.”

Bahkan besok aku harus meeting, mempresentasikan apa yang kubuat sekarang ini. Well, kita lihat saja nanti.” Pembicaraan kami terhenti beberapa saat.

Ada apa dengan orang ini? Terasa lain dari biasanya. Memang beberapa bulan ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Dulu walau dia sudah memanggilku “Dear”, tapi kami tidak begitu akrab. Jangankan hang out, makan siang bersama pun tidak pernah. Bahkan ngobrol hanya berdua pun tidak pernah. Kami berjarak.

Satu jam kemudian, ponselku berdering.

Aku sedang jalan keluar kantor Dear. Kita ketemu di mall dekat sini ya.”

Jarak antara kantornya, mall, dan tempat tinggalku memang tidak jauh. Semuanya bisa ditempuh dengan hanya 5-10 menit berjalan kaki.

Tak lama kemudian, kami bertemu, di tengah gemerlap ribuan pendar cahaya lampu kota. Mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk mengarung malam ini. Ah, kota ini memang tidak pernah mati. Entah berapa ratus juta jiwa yang menghuni setiap jengkalnya. Ia seperti magnet yang menarik siapa saja untuk mendekat. Berharap bisa mendulang pundi-pundi harta, meski tak jarang justru terjadi sebaliknya.

Pilihan kami jatuh pada sebuah restoran terkenal di pusat kota. Restoran yang tadinya kupikir bersuasana tenang dan cozy, dengan life music jazz. Ternyata sangat jauh dengan perkiraanku. Hentakan musik dan sinar lampu warna-warni menyambut kami saat kulangkahkan kaki memasukinya.

Seorang waitress memilihkan tempat duduk. Dengan senter kecil ia menggiring kami ke arah sebuah sofa besar yang nyaman di sudut ruangan. Lalu dia memberikan buku menu. Dan kami pun sibuk memilih aneka macam hidangan yang kelihatannya menarik.

Kamu mau makan apa Dear?”

Apa sajalah mas.” Sahutku yang sebenarnya tak terlalu berminat untuk makan. Akhirnya ia menunjuk satu menu, dan waitress itu pun berlalu meninggalkan kami.

Tempat itu remang, hanya ada sedikit cahaya di sana. Kami bahkan harus melihat buku menu dengan bantuan senter. Yang mendominasi ruangan itu adalah hentakan musik yang berdentum menggetarkan dinding-dinding ruangan. Kami jadi harus saling berteriak bila berbicara.

Kamu suka tempat ini Dear?” Katanya di telingaku. Aku tersenyum dan menggeleng.

Kalau kamu bosan di sini, nanti kita cari tempat lain saja.” Katanya lagi.

Kami memulai obrolan malam itu, tentang hal-hal yang tidak penting. Kami bicara, bercanda, dan tertawa. Tiba-tiba saja kami jadi sangat dekat. Dia duduk di sebelahku, mengusap rambutku, memegang tanganku, merengkuh bahuku. Segalah hal yang rasanya tidak mungkin  dan tak pernah ia lakukan dulu.

Dua jam berlalu. Makin malam, tempat itu semakin ramai saja. Kami mulai bosan, maka kami kemudian memutuskan untuk pergi dari sana.

Kita cari tempat lain ya, Dear.” Katanya. Aku hanya mengangguk dan beranjak berdiri dari sofa. Kami berjalan keluar dari ruangan itu. Embun membasahi ujung-ujung helai rambutku, sudah dini hari.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya sekilas, dibiarkannya hingga dering itu berhenti sendiri, lalu dia mematikan ponsel itu. Aku menatapnya, tanpa berkata apa pun.

Biar tidak ada telepon dari isteriku.” Katanya sambil menoleh dan tersenyum ke arahku.

Oh okay, ini menarik! Aku membalas senyumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s